Sejarah Perkembangan Tanjungpinang Sebagai Markas Militer di Daerah Perbatasan
DOI:
https://doi.org/10.69853/ja.v2i1.23Kata Kunci:
Tanjungpinang, markas militer, daerah perbatasanAbstrak
Tulisan ini mengkaji perkembangan Tanjungpinang sebagai markas militer di daerah perbatasan. Kajian dilakukan menggunakan metode penelitian sejarah dan dalam pengumpulan data dilakukan studi kepustakaan. Dari kajian diketahui, pasca kemerdekaan Tanjungpinang sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Riau memiliki peran penting sebagai markas militer militer. Kepulauan Riau satu-satunya kabupaten di Provinsi Riau yang tidak dikuasai oleh pemberontak ketika meletus pemberontakan di Sumatra Barat yang dilakukan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958. Pemerintah pusat menjadikan Tanjungpinang menjadi markas militer untuk menumpas pemberontakan PRRI setelah menguasai Lapangan Udara Kijang. Sejak tahun 1950-an, Tanjungpinang juga dijadikan basis Angkatan Laut Republik Indonesia. Dimulai pembentukan Komando Daerah Maritim Riau (KDMR) yang nantinya berubah nama jadi Komando Daerah Maritim (Kodamar), cikal bakal Pangkalan Utama Angkatan Laut RI (Lantamal) IV Tanjungpinang. Pentingnya posisi Tanjungpinang dalam bidang militer di wilayah perbatasan terlihat dengan kehadiran sejumlah institusi militer pasca terbentuknya Provinsi Kepri dengan Tanjungpinang sebagai ibukota. Diawali pembentukan Komando Resort Militer (Korem) 033 Wira Pratama tahun 2006, Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I tahun 2020 dan Tanjungpinang jadi markas Komando Armada I tanggal 5 Desember 2022.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2023 Jurnal Archipelago

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
This work is licensed under Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International